ABDURRAHMAN BIN AUF


Siapa yang tak kenal Abdurrahman bin Auf?
Di kalangan entrepreneur muslim pastilah beliau menjadi idola.  Betapa tidak. Sahabat Rasululloh ini memang sangat piawai dalam berbisnis. Di Makkah beliau adalah seorang pengusaha kaya raya. Ketika hijrah ke Madinah harta yang bejibun itu tidak dibawa. Otomatis di Madinah memulai dari nol. Ketika ditawari harta, kepada sahabat Anshor tersebut beliau menolak dan hanya meminta ditunjukkan letak pasar. Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama Abdurrahman bin Auf kembali menjadi kaya raya.

Namun Abdurrahman bin Auf bukanlah sosok orang yang cinta dunia. Dengan karunia kekayaan yang melimpah, beliau justru mengendalikan dunia. Beliau sangat royal terhadap hartanya. Bukan untuk shopping atau prestise, namun untuk kemanfaatan umat.

Sedekahnya tidak berbilang.
Disebutkan  bahwa Abdurrahman bin Auf menyedekahkan ½ hartanya di masa Rasululloh.

Beliau juga pernah berinfaq 40.000 dinar (setara 86,2 milyar lebih  jika 1 dinar saat ini sama dengan Rp 2.156.414), 500 kuda, 500 kendaraan untuk jihad di jalan Alloh. Setiap hari beliau belanjakan hartanya untuk membebaskan 30 budak. Ja’far bin  Burqan mengatakan, Abdurrahman bin Auf telah membebaskan 30.000 budak. Ketika wafat beliau mewasiatkan hartanya untuk 100 sahabat yang ikut perang Badar masing-masing dengan 400 dinar atau masing-masing 862 juta lebih (al Ishobah IV/290-293). Dalam riwayat lain masih banyak lagi.

Ada beberapa hal yang layak dicontoh dari seorang Abdurrahman bin Auf.

1. Keberhasilan beliau menundukkan cinta dunia.  Sangat bertolak belakang dengan Paman Gober –tokoh imajiner Walt Disney.  Paman Gober merupakan ilustrasi kekikiran orang kaya, yang bahkan tahu jika sekeping uangnya hilang.  Hanya sekeping.  Padahal dia punya bergudang keping uang.

2. Harta Abdurrahman bin Auf didapat dengan cara berkah.  Cara berkah hanya mungkin jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Islam.  Ini tentu berbeda dengan pengusaha zaman sekarang yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari jerat renterir bernama Bank.  Bagaimana bisa hartanya memberi kemanfaatan jika mengawalinya dengan cara haram.

3. Dengan infaq sebanyak itu pun Abdurrahman bin Auf masih belum tenang memikirkan nasibnya apakah dia bisa masuk surga.  Beda dengan orang kaya zaman sekarang yang seakan-akan sudah bisa membeli kavling surga dengan hartanya.

4. Sekalipun kaya raya Abdurrahman bin Auf tidak sekedar berjuang dengan hartanya.  Beliau juga turun secara langsung ke arena dakwah dan medan laga jihad.  Sementara pengusaha kaya saat ini lebih memilih ‘jihad ekonomi’ sambil ‘bersembunyi’ dari resiko.

Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang tak pernah kering teladannya.  Bagi para entrepreneur yang mengidolakan beliau setidaknya malulah kita pada empat hal di atas.

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimah dari kami (amalan kami), aamiin.

Semoga Bermanfaat
?❤?

Advertisements