Rumah Kita (oleh: Cak Nun)


Rumah Kita (oleh: Cak Nun)

Kita bukan penduduk bumi, kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi, tapi kita berasal dari syurga.

Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman.
Dunia bukan rumah kita, maka jangan cari kesenangan dunia.

Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali kerumahnya.

Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?

Lantas, apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?

Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?

Kita tidak berasal dari bumi, kita adalah penduduk syurga.
Rumah kita jauh lebih Indah di sana.

Kenikmatannya tiada terlukiskan, dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita.
Ada istri sholeha serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.

Mereka rindu kehadiran kita, setiap saat menatap menanti kedatangan kita.
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail. Kapan Keluarga mereka akan pulang.

Ikutilah peta (Al Qur’an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan. Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya iblis Laknatullah yaitu neraka

Kita bukan penduduk bumi, kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan. Kembalilah ke rumah.

Namanya, Emha Ainun Nadjib, akrab disapa Cak Nun, seorang Budayawan, Seniman, Intelektual Muslim, Ustadz, dan tokoh panutan.

Usai membaca salah satu karya nya di atas, saya penasaran dengan sosok yang ramai diperbincankan di berbagai forum media social ini. Kata-kata nya sering di kutip di Twitter, Instagram, Facebook, Path, dan blog-blog pribadi. Pria 62 tahun ini, merupakan seorang Ustadz yang nyentrik. Di berbagai media disebutkan bahwa Presiden Soeharto sempat meminta nasihat Cak Nun sebelum dirinya memutuskan untuk turun tahta. Tokoh-tokoh Negeri ini, baik lokal maupun nasional banyak yang sowan ke rumah beliau untuk meminta nasihat atau sekedar berdiskusi, menambah ilmu. Beliau merupakan salah satu lilin di tengah kegelapan, berdakwah dengan kesederhanaan, dengan pendekatan budaya.

Setelah membaca ‘Rumah Kita’ di atas, saya menjadi sering berkunjung kewww.caknun.com untuk membaca karya-karya beliau yang lain. Beliau mengatakan pada salah satu ceramahnya,

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas).  Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.

 

sumber : https://mnfitra.wordpress.com/2015/07/05/belajar-dari-cak-nun/

Advertisements