NASRUDDIN MENOLONG BULAN


Akhir-akhir ini banyak kita temukan fenomena orang yang merasa bangga dengan apa yang dilakukannya. Tidak terkecuali  dengan mereka yang sedemikian bangga dan merasa seakan telah membela Islam, hanya karena ikut demo turun ke jalan. Begitu besarnya perasaan itu, sampai-sampai mereka berani menghina, mencerca, dan melecehkan siapapun yang tidak sefaham atau tidak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Tuduhan bahwa orang-orang yang tidak turut ambil bagian itu sebagai munafik, lemah iman, dan sejenisnya seringkali mereka lontarkan baik melalui lisan ataupun tulisan.

Melihat fenomena tersebut saya jadi teringat dengan kisah Nasruddin yang merasa telah menolong bulan. Kisah tersebut banyak kita temukan di buku-buku humor Nasruddin, atau di sumber-sumber internet lainnya. Berikut ini saya kutipkan kisah lengkapnya:

“Suatu hari di bulan puasa, Nasrudin sedang berjalan-jalan hingga tiba waktu malam. Ia melewati sebuah sumur yang membuatnya penasaran dan ingin menengok ke dalam. Di dalam sumur itu ia melihat bayangan bulan. Ia kaget sedemikian rupa hingga  membuatnya khawatir secara berlebihan. Dia bergumam: “Duh, bagaimana ini, kenapa bulan bisa terperosok ke dalam sumur. Wah…kalau rembulan ini tidak saya selamatkan, maka bulan puasa tak akan pernah berakhir, apa jadinya”

Nasrudin pun berfikir keras untuk menolong bulan. Akhirnya, ia mencari sebuah tali yang besar dan kuat. Ia lemparkan tali itu ke dalam sumur. Tali itu tersangkut kuat di sebuah batu besar. Dengan sekuat tenaga Nasrudin menarik tali tersebut. Saat ujung tali hampir sampai, Nasrudin terpental dan terjatuh. Dalam keadaan jatuh terlentang ia memandang langit dan melihat bulan sudah ada di atas ketinggian. Ia pun tersenyum manis. “Hemmm,, bisa juga aku menolongmu, untung saja aku lewat, kalau tidak, apa jadinya dengan nasibmu bulan. Bisa-bisa semua orang tidak jadi berhari raya”. , gumam Nasrudin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Saudaraku…..
Dalam cerita tersebut, betapa Nasruddin sedemikian yakin bahwa dialah yang telah berhasil menolong bulan dari kejatuhan dan keterperosokannya. Padahal kita semua tahu, bulan tidak pernah jatuh, apalagi sampai terperosok ke dalam sumur. Apa yang dilihat oleh Nasruddin di dalam sumur itu sebenarnya hanya bayangan. Nasruddin tidak bisa membedakan mana bayangan dan mana yang sesungguhnya. Sudah begitu ia sangat bangga dan merasa sebagai orang yang paling berjasa. Seakan tanpanya, bulan tak akan tertolong dari keterperosokannya.

Belajar dari cerita tersebut, kita semua memang berkewajiban membela agama yang kita cintai ini. Tapi pastikan bahwa kita mengerti dengan baik, duduk persoalannya. Jangan sampai kita melangkah hanya karena provokasi atau aneka bentuk hasutan lainnya. Bertanyalah kepada Kiyai, guru-guru panutan kita. Beliau lebih mengerti  hakekat yang sebenarnya. Beliau-beliau umumnya sangat arif dan lebih hati-hati dalam bersikap. Terlebih dalam mengambil tindakan. Tidak mudah terpancing, tidak mudah emosi. Beliau-beliau punya cara yang lebih baik dan lebih pas dalam menyelesaikan segala persoalan. Umumnya beliau punya prinsip, ibarat menangkap ikan. Dapatkan ikannya dan kalau bisa jangan keruhkan airnya.

Semoga kita semua bisa berpegang kepada agama Allah swt ini dengan penuh kearifan. Terhindar dari kesombongan, terlebih berani melecehkan orang lain atau tokoh panutan hanya karena tidak sejalan. Padahal diantara tokoh yang dilecehkan itu, bahkan ada yang
telah menghabiskan sebagian besar dari hidupnya untuk Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab
——————————————–
Malang, 3.12.2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s